HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Jejak Kejayaan Pajajaran Terekam di Prasasti Batutulis


FOKUSUPDATE.COM
— Jejak peradaban besar leluhur Sunda terpahat nyata di tanah Bogor. Bukan sekadar mitos, situs bersejarah Prasasti Batutulis (1533 M) menjadi bukti otentik bahwa Pakuan Pajajaran adalah pusat pemerintahan yang megah, terorganisasi, dan memiliki visi tata kota serta ekologi yang melampaui zamannya.

​Prasasti ini merupakan wujud penghormatan sekaligus "surat cinta" dari Prabu Surawisesa untuk mendiang ayahnya, Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Melalui sembilan baris tulisan yang dipahat menggunakan aksara dan bahasa Sunda Kuno, generasi masa kini dapat membaca cetak biru kejeniusan para pendahulu dalam mengelola sebuah peradaban.

​Transliterasi dan Terjemahan Teks Utama

​Berikut adalah dokumen otentik dari naskah kuno Prasasti Batutulis, lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia:

​Transliterasi Teks (Sunda Kuno)

​Wangna pun ini sakakala, prebu ratu purane pun,

​diwastu diya wingaran prebu guru dewataprana

​diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran seri sang ratu de-

​wata pun ya nu nyiyan sakakala gugunungan ngabalay nyiyan samida nyiyan sanghyang ta-

​laga rena mahawijaya ya pun ya ma nu nyiyan kaprabu-

​an aya ma nu nyiyan parit pakwan pun ya ma nu

​sakakala panyileukan nyiyan urung-urung

​prebu raja purane pun isaka walapan bumit-

​i ekasiti.

​Terjemahan Bahasa Indonesia

​Semoga selamat, ini tanda peringatan bagi Prabu Ratu almarhum,

​Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,

​Dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu

​Dewata. Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) Samida, membuat sanghyang

​Telaga Rena Mahawijaya. Ya, dialah yang membuat (tanda-tanda) kekuasaan

​ada yang membuat parit (pertahanan) Pakuan. Dialah yang (membuat)

​tanda peringatan sebagai bentuk kerinduan/kenangan, membuat jalan tembus (urung-urung)

​Prabu Raja almarhum. Pada tahun Saka delapan, bumi,

​dan satu (1455 Saka atau 1533 Masehi).

​Intisari dan Visi Besar Sri Baduga Maharaja

​Secara garis besar, dokumentasi sejarah ini merangkum empat pilar utama kepemimpinan Sri Baduga Maharaja semasa hidupnya:

​Legitimasi Takhta: Menegaskan penobatan Sri Baduga sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di tanah Sunda dan Galuh.

​Visi Ekologi (Samida): Pembuatan hutan buatan (taman buru/hutan lindung) demi menjaga keseimbangan alam dan keperluan ritual.

​Infrastruktur Modern (Ngabalay): Pengerasan jalan menggunakan batu serta pembuatan parit pertahanan (Parit Pakwan) untuk keamanan ibu kota.

​Manajemen Air (Talaga Mahareṇa Wijaya): Pembangunan bendungan atau telaga besar guna menyokong sistem irigasi pertanian rakyat.

​Perspektif Para Ahli Sejarah

​Keberadaan Prasasti Batutulis senantiasa menarik perhatian para pakar lintas generasi. Beberapa pandangan ahli memberikan bobot ilmiah yang mendalam terhadap situs ini:

​Saleh Danasasmita (Sejarawan Sunda): Menyoroti istilah Panyileukan yang bermakna kerinduan mendalam. Ia menekankan bahwa prasasti ini bukan sekadar maklumat politik, melainkan sebuah monumen emosional yang dibangun anak untuk menghormati ayahnya.

​C.M. Pleyte (Peneliti Belanda): Menjadikan titik koordinat Batutulis sebagai jangkar utama untuk memetakan kembali letak keraton dan benteng pertahanan Pakuan Pajajaran yang sempat hilang ditelan waktu.

​Poerbatjaraka (Filolog): Mengagumi kemurnian struktur bahasa Sunda Kuno yang digunakan. Hal ini menjadi bukti tingginya tingkat literasi dan budaya tulis di kalangan elit Pajajaran kala itu.

​Analisis Mendalam: Mengapa Batutulis Begitu Penting?

​1. Konteks Politik: Monumen di Tengah Badai

​Banyak yang mengira batu ini dipahat saat masa keemasan Pajajaran. Faktanya, prasasti ini diresmikan oleh Prabu Surawisesa pada tahun 1533 M—tepat 12 tahun setelah Sri Baduga Maharaja wafat.

​Kala itu, Kerajaan Sunda tengah menghadapi masa transisi yang berat akibat tekanan ekspansi dari Kesultanan Demak dan Cirebon. Surawisesa, yang tercatat memimpin puluhan pertempuran defensif, membangun monumen ini sebagai strategi psikologi massa. Ia ingin mengingatkan rakyatnya bahwa mereka adalah bangsa yang besar, sekaligus menegaskan legitimasi spiritualnya sebagai pewaris sah trah Manah Rasa.

​2. Kejeniusan Tata Kelola Tata Kota kuno

​Istilah teknik sipil dan ekologi yang tercantum di dalam teks membuktikan kemajuan teknologi lokal sebelum intervensi bangsa Barat:

​Prahajyan di Pakuan: Mengukuhkan fungsi Bogor (Pakuan) sebagai Ibu Kota Negara dengan fasilitas publik yang komplet.

​Samida: Konsep kawasan konservasi hutan abad ke-16. Konsep "Hutan Lindung" ini diterapkan untuk menjaga hidrologi (ketersediaan air) dan pasokan kayu. Ini adalah prinsip keberlanjutan yang sangat modern.

​Ngabalay & Urung-urung: Teknik pengerasan jalan (balay) serta pembuatan jalan tembus atau terowongan (urung-urung) membuktikan bahwa mobilitas logistik militer dan ekonomi rakyat sudah menjadi prioritas utama pemerintah.

​3. Pelajaran untuk Generasi Kontemporer

​Bagi masyarakat modern, Prasasti Batutulis memberikan pelajaran berharga mengenai Public Relations (PR) Pemerintahan versi kuno. Melalui dokumentasi kerja nyata (output) yang presisi seperti jalan, parit, dan telaga, pihak kerajaan menunjukkan transparansi sejarah kepada publik.

​Selain itu, situs ini menjadi bukti bahwa identitas urang Sunda berakar pada tradisi literasi yang kuat, etika lingkungan yang seimbang, serta penghormatan tinggi terhadap legacy (warisan) para leluhur. Pembangunan fisik tidak boleh mengorbankan alam; sebuah pesan ekologis yang kini gaungnya justru makin relevan.

​Editor: Tim Redaksi Fokus Update

Posting Komentar