MIRIS! WARGA CI ADEG KESULITAN MAKAN, RUMAH TERANCAM AMBRUK — PEMKAB BOGOR JANGAN TUTUP MATA!
BOGOR | FOKUSUPDATE.COM — Ironis! Di tengah pembangunan yang terus digaungkan di Kabupaten Bogor, Amin, warga RT 03/RW 09, Kampung Lengis, Desa Ciadeg, Kecamatan Cigombong, (29/10/2026) justru masih berjuang untuk sekadar mengisi perut. Hidup sebatang kara, berpenghasilan tak menentu, dan tinggal di rumah yang terancam ambruk, Amin membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar rasa prihatin.
Untuk bertahan hidup, Amin hanya mengandalkan upah dari pekerjaan menggali kuburan. Pekerjaan yang tidak selalu tersedia membuatnya terkadang hanya mampu makan sekali sehari. Kondisi ini menjadi gambaran nyata bahwa persoalan kemiskinan dan pemenuhan kebutuhan dasar masih membutuhkan penanganan serius.
“Saya hidup sebatang kara. Untuk bertahan hidup, saya hanya mengandalkan pekerjaan menggali kuburan. Itu pun kalau ada pekerjaan. Saya terkadang hanya makan sekali sehari,” ungkap Amin.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah. Bagaimana mungkin kebutuhan dasar seorang warga masih begitu sulit terpenuhi, sementara tempat tinggalnya pun berada dalam kondisi memprihatinkan?
Anggota BPD Desa Ciadeg, Ujang, membenarkan kondisi ekonomi Amin yang memprihatinkan. Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah pusat segera turun tangan memberikan bantuan yang dibutuhkan.
Sementara itu, Kepala Desa Ciadeg, Wahyu, menyampaikan bahwa pihak desa telah meninjau kondisi Amin sekitar dua bulan lalu dan memberikan bantuan berupa kompor serta penanak nasi.
Bantuan tersebut patut diapresiasi. Namun, persoalan Amin jelas belum selesai hanya dengan peralatan rumah tangga. Kompor tidak berarti apa-apa jika bahan pangan sulit dibeli, sementara penanak nasi tak menjawab persoalan ketika beras pun belum tentu tersedia. Terlebih, kondisi rumah yang terancam ambruk juga membutuhkan penanganan serius.
Pemkab Bogor, khususnya Dinas Sosial dan instansi terkait, perlu segera melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi Amin. Pastikan kebutuhan pangan terpenuhi, status kepesertaan dan kelayakan bantuan sosial diperiksa, serta kondisi rumahnya dinilai untuk kemungkinan mendapatkan program perbaikan rumah tidak layak huni sesuai ketentuan.
Jangan sampai persoalan ini berhenti pada pendataan, kunjungan sesaat, atau sekadar dokumentasi. Masyarakat membutuhkan bukti bahwa kehadiran pemerintah benar-benar dirasakan oleh warga yang paling membutuhkan.
Amin bukan sekadar angka dalam data kemiskinan. Ia adalah warga yang membutuhkan makanan, tempat tinggal yang aman, dan kehidupan yang layak.
Pemkab Bogor jangan menunggu rumahnya benar-benar roboh atau kondisinya semakin parah untuk bergerak. Pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pihak terkait perlu berkoordinasi agar bantuan yang tepat segera diberikan.
Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya megahnya infrastruktur atau banyaknya program yang diumumkan, tetapi juga kemampuan memastikan tidak ada warga yang dibiarkan berjuang sendirian menghadapi kelaparan dan ancaman kehilangan tempat tinggal.
Jangan biarkan Amin menunggu lebih lama. Turun langsung, periksa kondisinya, dan hadirkan solusi nyata!
