HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tradisi Adu Bincurang Cimande Bertahan di Era Modern: Simbol Ketangguhan dan Silaturahmi Budaya Sunda


KABUPATEN BOGOR, 20 MEI 2026
– Di tengah pesatnya arus modernisasi dan pengaruh media sosial, masyarakat di Kampung Cimande, Kabupaten Bogor, berhasil menjaga kelangsungan warisan leluhur mereka, yaitu tradisi Adu Bincurang. Tradisi adu ketahanan tulang kering ini kini bertransformasi menjadi sarana pemersatu generasi muda sekaligus upaya pelestarian budaya Sunda yang masih terjaga hingga saat ini.

​Adu Bincurang pada dasarnya bukan sekadar adu kekuatan fisik semata. Lahir dari akar budaya pencak silat Cimande, tradisi ini memiliki filosofi mendalam sebagai wadah komunikasi antargenerasi.

​Sesepuh Cimande, Didih Supriadi atau yang akrab disapa Aki Didih, mengungkapkan bahwa kegiatan ini adalah bukti kecerdasan nenek moyang dalam merajut tali persaudaraan.

​“Dulu itu cerdasnya orang tua kita untuk menyatukan generasi muda dan jadi forum silaturahmi kayak Adu Bincurang,” ujar Aki Didih saat ditemui, Senin (18/5/2026).

Etika dan Aturan dalam Arena

Meski terlihat keras, tradisi ini memegang teguh norma kesantunan. Sebelum memasuki arena, peserta wajib mematuhi aturan adab yang ketat, termasuk mengenakan peci, kain, dan pakaian khas pencak silat.

​Dalam teknis permainannya, terdapat aturan yang harus ditaati: peserta hanya diperbolehkan melayangkan tendangan dari area lutut hingga ke mata kaki. Hal ini mencerminkan disiplin tinggi yang menjadi dasar dari bela diri tersebut.

Semangat Persaudaraan di Atas Segalanya

Walaupun tradisi ini dikenal ekstrem dan berisiko menimbulkan cedera fisik, nilai kekeluargaan tetap menjadi prioritas utama. Aki Didih menegaskan bahwa tidak ada dendam yang timbul setelah pertandingan selesai.

​“Kalau ada yang cedera, ya diurus bersama, tidak pernah sampai ke meja hijau (jalur hukum),” tambahnya.

​Namun, Aki Didih juga memberikan catatan penting terkait tantangan zaman. Ia menilai bahwa perubahan perilaku generasi muda saat ini membuat sebagian nilai-nilai budaya dalam tradisi tersebut mulai memudar. Oleh karena itu, konsistensi dalam menjaga warisan ini menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Cimande agar keunikan budaya lokal ini tidak hilang dimakan waktu.

Posting Komentar