HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Tahun Baru di Puncak: Harapan Warga Kecil Tergerus Kebijakan Pembatasan


BOGOR
| Setiap memasuki pergantian tahun di kawasan Puncak, keresahan warga kian terasa dan sulit lagi disembunyikan. Lebih dari satu dekade terakhir, masyarakat menilai momen tahun baru yang dulu membawa harapan ekonomi kini justru menjadi sumber kekhawatiran. Alih-alih menghadirkan peluang, pergantian tahun bagi warga kecil di Puncak kini lekat dengan berbagai pembatasan dan tekanan kebijakan.

Warga yang menggantungkan penghidupan pada sektor pariwisata, jasa, serta usaha kecil merasa semakin kehilangan ruang untuk bertahan. Keramaian wisatawan yang sebelumnya menjadi penopang ekonomi kini tidak lagi sepenuhnya dapat dimanfaatkan. Sejumlah kebijakan pembatasan dianggap kerap diterapkan tanpa melibatkan dialog yang cukup dengan masyarakat setempat, sehingga dampaknya langsung dirasakan oleh kelompok paling rentan.

Kebijakan yang paling dirasakan dampaknya adalah penutupan jalur Puncak pada malam pergantian tahun, mulai pukul 18.00 hingga 06.00. Bagi warga lokal, aturan ini dinilai mematikan aktivitas ekonomi pada waktu yang sangat menentukan. Padahal, malam tahun baru merupakan puncak perputaran uang bagi pedagang, pelaku UMKM, dan pekerja harian yang bergantung pada kehadiran wisatawan.

“Justru di jam-jam itu kami berharap penghasilan paling besar. Tapi ketika jalan ditutup, orang tidak bisa datang dan usaha kami ikut terhenti,” ujar seorang pelaku usaha di kawasan Puncak. Penutupan jalur tersebut tidak hanya menurunkan pendapatan, tetapi juga memicu dampak berantai bagi banyak keluarga yang hidup dari sektor informal.

Warga menilai kebijakan ini kembali menunjukkan kurangnya keberpihakan kepada masyarakat lokal. Menurut mereka, pemerintah lebih fokus pada aspek pengaturan dan keamanan, sementara dampak sosial dan ekonomi yang ditanggung warga kecil kurang diperhitungkan. Di sisi lain, masyarakat melihat adanya kelompok tertentu yang tetap dapat menjalankan aktivitas tanpa merasakan dampak berarti.

Akibat kondisi tersebut, pergantian tahun tidak lagi dimaknai sebagai awal yang penuh harapan. Bagi warga Puncak, tahun baru kini menjadi simbol ketimpangan kebijakan yang terus berulang dari waktu ke waktu. Momen yang seharusnya membawa optimisme justru meninggalkan jejak kekecewaan yang berkepanjangan.

Masyarakat berharap pemerintah dan para pengambil kebijakan tidak hanya memandang persoalan dari sisi lalu lintas dan keamanan. Mereka menuntut kebijakan yang lebih berempati, adanya ruang dialog yang terbuka, serta solusi yang adil agar pengamanan tetap berjalan tanpa mengorbankan sumber penghidupan warga lokal. Bagi masyarakat Puncak, didengarkan bukan lagi sekadar harapan, melainkan kebutuhan mendesak demi kelangsungan hidup mereka. (**)

Posting Komentar