Dugaan Solar Bersubsidi Ditimbun di Cimomas, Jurnalis Diduga Dihadang: Ada Apa? Polisi Jangan Diam
TENJO, BOGOR — Dugaan penimbunan dan penyalahgunaan solar bersubsidi kembali mencuat di Kabupaten Bogor. Kali ini, sorotan mengarah ke wilayah Desa Cimomas, Kecamatan Tenjo, setelah muncul dugaan aktivitas penimbunan BBM bersubsidi yang disebut-sebut melibatkan pihak tertentu berinisial Anisil H.F.
Namun, yang membuat persoalan ini semakin panas bukan hanya dugaan penimbunan solar. Ketika sejumlah awak media datang untuk melakukan peliputan dan meminta konfirmasi, mereka justru mengaku dihadang, diintimidasi, bahkan mendapat ancaman kekerasan dari sejumlah orang yang berada di lokasi.
Jika benar terjadi, tindakan tersebut bukan sekadar persoalan pelarangan mengambil gambar. Menghalangi kerja jurnalistik dengan ancaman dan kekerasan adalah persoalan serius yang tidak boleh dianggap sepele.
Publik tentu patut bertanya: mengapa aktivitas yang diduga berkaitan dengan solar bersubsidi harus dijaga dengan intimidasi terhadap wartawan? Apa yang sebenarnya ingin ditutupi?
Dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi harus dibuktikan melalui penyelidikan. Begitu pula dugaan intimidasi terhadap jurnalis harus diusut berdasarkan keterangan saksi, rekaman, dan bukti yang tersedia.
Polres Bogor jangan menunggu persoalan ini viral terlebih dahulu. Aparat diminta segera turun ke lokasi, memeriksa dugaan aktivitas penimbunan solar, menelusuri pihak-pihak yang terlibat, serta mengusut dugaan ancaman terhadap awak media.
Sebab, jika benar solar bersubsidi disalahgunakan dan jurnalis justru dihadang ketika mencoba mengungkapnya, maka persoalannya bukan lagi sekadar dugaan penimbunan BBM.
Ini menyangkut dugaan penyalahgunaan fasilitas negara sekaligus ancaman terhadap kebebasan pers.
Nama Anisil H.F. dalam pemberitaan ini masih sebatas dugaan berdasarkan informasi yang dihimpun dan belum merupakan kesimpulan hukum. Yang bersangkutan berhak memberikan klarifikasi dan pembelaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Kini publik menunggu satu hal: apakah aparat akan benar-benar membuka persoalan ini, atau justru membiarkannya menjadi tanda tanya besar di tengah masyarakat?
(**)
